Lost in the stream of tedious routines, I search for the essence of who I am
Ternyata mengakui bahwa diri ini sudah burnout dan tidak lagi menikmati aktivitas sehari-hari bahkan dalam konteks pekerjaan butuh keberanian. Kenapa? Aku berpikir dengan mengakui hal tersebut sama dengan menyerah dan tidak ada lagi kemauan di dalamnya.
Yet that confession has drawn me into seeking the truth of who I really am. Apa yang aku butuhkan dalam hidup, value apa yang ku pegang, tujuan besar dalam hidupku, dan apa yang membuatku merasa cukup. Tentu, sampai di saat aku menulis ini pun aku belum menemukan semua hal itu. Aku rasa tidak perlu terlalu terburu menemukannya, karena pencarian itu memang merupakan proses yang panjang. Bukan sekadar brainstorming semalam jadi.
Akhir-akhir ini aku menyukai aktivitas yang membuatku merasa lebih pelan dan tenang, di tengah arus kehidupan yang menyuruhku untuk bergerak cepat karena kalau tidak kamu akan tertinggal, bahkan tergilas. Haha, terlalu dramatis. Tapi intinya, dengan melakukan aktivitas-aktivitas ini berhasil membuat diriku setidaknya bisa menikmati jalannya waktu dan merasa lebih mindful.
Membaca Buku Self Development
Sebetulnya, dulu sewaktu SD aku sangat menggemari buku fiksi, apalagi seri KKPK kalau kamu tahu. Mungkin untuk seukuran anak SD aku bisa menghabiskan 1 buku yang berisi sekitar 120 halaman hanya dalam sekali duduk sudah luar biasa. Aku juga sering meminta untuk dibelikan buku di Gramedia. Tapi dengan keterbatasan uang ketika itu, tentu aku tidak bisa meminta belikan buku sesuka ku. Jadi, pandai-pandailah diri ini harus merayu mama, papa, bahkan kakek atau nenek hehe.
Aku menyadari, semakin beranjak dewasa entah kenapa membaca buku menjadi aktivitas yang sangat membosankan — dan agak sulit dilakukan karena kesibukan yang tidak berkesudahan. Namun, aku masih sering terdorong untuk membeli buku dengan harapan aku bisa membacanya di saat senggang, bahkan mencoba untuk membeli buku bertemakan self-development. Tapi kamu juga pasti tahu, membeli buku bukan berarti akan selalu dibaca habis, dan di saat senggang ternyata aku lebih memilih untuk menonton Netflix atau sekadar scrolling Instagram karena memang membuat otak tidak berpikir terlalu keras. Sampai pada akhirnya aku berada di kondisi tidak lagi menikmati membaca buku karena mudah terdistraksi dan tidak menyenangkan.
Ada satu hal yang selalu mengganjal di pikiranku, sepertinya bisa membeli dan membaca buku ketika kecil adalah sebuah privilege, karena tentu membaca buku itu baik dan perlu ditanamkan kebiasaannya sejak kecil. Menurutku, ketika memang anak-anak senang membaca buku, kenapa tidak di-support dengan memberikannya bacaan atau buku-buku yang berkualitas, bukan malah memarahinya karena terlalu boros banyak membeli buku. Walau sebenarnya, kita bisa juga meminjamnya dari perpustakaan, tapi terkadang ada batasan waktu dan tidak bisa benar-benar memilih buku apa yang ingin dicari.
Ketika dewasa, aku mengetahui kalau membaca buku itu kebiasaan yang sulit dikembalikan atau dimulai. Tapi apa pentingnya sih membaca buku?Aku menemukan jawabannya ketika aku sering menonton podcast di Youtube. Banyak narasumber keren yang bisa membicarakan wawasan yang dia dapat dari buku. Tentu aku sangat kagum melihat orang membicarakan suatu topik dan dengan lancar mengutarakan ide apapun yang ada di pikirannya. Tapi bagaimana mau membicarakan ide di dalam kepala kalau ternyata kepala kita memang kosong? Sepertinya membaca buku ini memang modal yang sangat penting kalau kamu ingin “terlihat” pintar — harusnya bukan itu tujuannya — atau minimal ketika diajak bicara orang lain tentang suatu topik, kamu engga terlihat kosong dan bisa sedikit bergaya dengan menceritakan wawasan yang sudah kamu baca.
I find it hard to spend my free time reading books. Ada kalanya, sekali duduk bisa menyelesaikan 10 halaman saja sudah sangat bagus. Tapi akan lebih bagus lagi kalau membaca buku dengan konsisten. Setidaknya kalau sangat sibuk kamu bisa membaca buku dua hari sekali (hari ini membaca buku, kemudian membaca lagi esok lusa). Tapi masalahnya, aku bisa membaca lagi buku itu 1–2 bulan kemudian, yang mana aku bahkan sudah lupa apa isi dari 10 halaman yang sudah kubaca itu. Akhirnya mengulang lagi dari awal, dan buku itu tidak pernah habis kubaca.
Mungkin mulai dari sekitar 2 tahun ke belakang, aku sangat menggemari konten tentang kesehatan mental. Selain karena kerasnya kehidupan yang mulai menyapa, ternyata dengan sedikit belajar tentang kesehatan mental aku juga mulai belajar mengenal diriku — intro yang sangat panjang ya, inti dari poin tulisan ini sebenarnya ada setelah ini.
Aku mendadak menikmati membaca buku lagi setelah datang ke sebuah event book launching. Judul bukunya “Pulih dari Trauma” yang di tulis oleh seorang psikiater dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ — aku sudah mengikuti akun beliau di Instagram dan Youtube sejak lama, karena banyak konten menarik yang sangat relate. Aku menikmati talkshow singkat di event book-launching itu, rasanya seperti tangki energiku kembali terisi. Tentu seperti judul bukunya, talkshow itu mengangkat topik tentang trauma dan dr. Jiemi hadir di sana sebagai narasumber. Di akhir event, ada book signing session dan foto bersama. Menurutku pengalaman personal ini yang membuatku kembali menikmati membaca buku.
hikmah berada di tanah perantauan ini ternyata aku bisa bertemu dan merasakan vibes orang-orang hebat
Tapi selain pengalaman personal yang ada di belakangnya, aku membaca buku juga karena ingin meningkatkan fokus dan melatih kesabaran. Aku sadar, seiring dengan meningkatnya konsumsi informasi singkat di media sosial seperti Instagram — misalnya reels yang durasinya pendek — membuatku menjadi orang yang mudah terdistraksi dan tidak sabaran. Semua hal harus selesai secara instan dan cepat, sehingga kurang menikmati proses. Membaca materi kuliah sebentar saja sudah tergoda mau nonton Netflix, atau mungkin bekerja juga ingin cepat-cepat selesai.
Akhirnya, sudah 1 bulan aku mencoba konsisten membaca buku — fun fact aku berhasil membaca habis 2 buku dalam 1 bulan, tapi bukan buku yg ada di foto itu karena bacanya harus pelan-pelan katanya haha. Hasilnya? Ternyata aku jadi lebih bisa menikmati jalannya waktu, pelan-pelan belajar menjadi orang yang lebih tenang, menjauhkan diri dari komparasi tidak penting yang ada di media sosial, dan berusaha menemukan diri sendiri.
Journaling dan Menulis
Sejujurnya setelah beberapa kali datang ke event buku, mulai memantik diriku untuk mencoba menulis. Aku memulainya dengan melakukan journaling di buku. Menuliskan pengalaman yang berkesan, kemudian menghiasnya menjadi lebih estetik. Selain menuliskan sesuatu yang menyenangkan, aku juga menuliskan pikiran dan perasaan negatif yang sering terlintas. Entah kenapa aku menuliskannya di buku yang terpisah, aku menghias dengan elok untuk cerita yang manis, dan menulis secara serampangan untuk cerita yang pahit.
Tulisan ini juga hadir sebagai caraku menikmati jalannya waktu, dan aku mulai bisa menulis lebih panjang tanpa bantuan Artificial Intelligence (AI) — selain untuk mencari tahu tanda baca yang tepat, ejaan, dan arti dari kata yang sering terngiang di kepala tapi ragu artinya apa, aneh sih tapi aku yakin kamu juga sering begitu. Menurutku ini juga salah satu efek positif dari membaca. Aku mulai bisa mengekspresikan diriku lewat kata-kata baik secara langsung maupun tulisan.
Intinya, aku menemukan diriku senang memaknai suatu peristiwa lewat journaling dan menulis ini.
Drawing and Other Artsy Things
Aku jadi ingin kilas balik, sebenarnya aku pernah memenangkan lomba menggambar ketika SD — lagi-lagi cerita semasa SD, sepertinya memang anak yang eksploratif ya. Ketika itu, ada perlombaan antar sekolah dasar salah satu cabang lombanya adalah gambar bercerita.
Aku ingat benar, menggambar adalah kegiatan yang menyenangkan saat itu namun aku kurang suka mewarnai. Tapi dengan segala latihan yang sudah kulalui, akhirnya aku berhasil mencapai perlombaan tingkat kota.
Kamu tahu gambar bercerita kan? Mirip seperti komik, kita diharuskan menggambar dalam beberapa panel yang membentuk cerita utuh. Di tahap awal, terasa mudah. Aku harus menggambar beberapa panel di satu halaman kertas A4. Sampai akhirnya di tingkat kota, aku harus menggambar beberapa panel dengan ketentuan 1 panel adalah 1 halaman kertas A3 — bayangkan jika ceritaku terdiri dari 6 panel, maka aku harus menggambar sebanyak 6 halaman kertas A3. Menggambar menyenangkan saja untukku, tapi mewarnai? kupikir aku masih sangat payah, apalagi memenuhi 6 halaman besar kertas A3 dengan crayon sangat melelahkan. Sebagai informasi tambahan, ini adalah cabang lomba dengan durasi paling panjang di antara cabang lomba lain seperti lomba pidato, lomba bercerita, dll — mungkin bisa mencapai 6 jam kalau aku tidak salah ingat.
Sayangnya, aku tidak terlalu mengasah keterampilan menggambarku setelah lomba itu selesai. Tapi aku belajar hal lain yang sedikit relate yaitu Corel Draw (sebuah perangkat lunak untuk mendesain) ketika SD. Papaku yang pertama kali mengenalkanku pada software ini. Aku mempelajarinya secara otodidak melalui buku tutorial yang dibeli papaku. Aku senang membuat vektor-vektor lucu seperti karakter, vektor diriku sendiri, vektor mamaku, dan sebagainya.
Lanjut ketika SMP, aku mendesain kaus organisasi yang aku ikuti ketika itu, dan mencoba untuk memonetisasinya. Rasanya sangat bangga ketika menghasilkan uang pertama kali dari skill yang ku asah sejak SD — ini juga diajarin papa, hehe.
Hal ini berlanjut ketika SMK, aku mengikuti seleksi kepanitiaan event dengan menawarkan skill mendesainku. Aku juga menang di beberapa lomba mendesain poster yang sekolahku adakan. Namun, sekali lagi sayangnya aku tidak melanjutkan eksplorasi di dunia desain. Aku mencoba untuk fokus mempelajari skill yang lain. Sampai suatu ketika, aku bertemu kembali dengan guru pelajaran desainku setelah aku lulus SMK, beliau mengatakan kenapa tidak mencoba mendesain lagi.
Beberapa waktu ini, aku kembali melakukan aktivitas yang dulu menyenangkan tapi sudah jarang kulakukan yaitu menggambar. Aku mulai menggambar hal-hal random seperti membuat jurnal tapi dalam bentuk sketch — misalnya menggambar kopi dan laptop yang menceritakan diriku sedang nongkrong di cafe di hari itu. Tidak perlu terlalu rapi dan estetik, asalkan aku bisa mengekspresikan diriku kurasa sudah cukup.
Selain menggambar, aku menemukan diriku sedang menikmati aktivitas yang berbau seni lainnya. Aku mengikuti Pottery Class baru-baru ini di Museum Seni Rupa dan Keramik Kota Tua Jakarta. Awalnya, aku datang tanpa ekspektasi, karena aku berencana membiarkan diriku mencoba hal baru dan belajar maklum kalau hasilnya tidak sempurna.
Ternyata, agak sulit ya membentuk sebuah mangkuk sederhana dari tanah liat. Akhirnya aku memutuskan tidak apa membiarkan mangkukku jadi dibantuin abang-abangnya. Tak apa bukan? Ini artinya sebagai manusia kita memerlukan manusia lain, hehe pembelaan.
Tapi ada satu hal yang membuat mangkukku unik, ada kucing di tengahnya. Aku datang tanpa ekspektasi ingin membuat kerajinan tanah liat seperti apa, tapi yang aku tau aku ingin ada unsur kucing di dalamnya. Sebagai seseorang yang cukup visioner, aku mencoba untuk membuat kucing dari tanah liat yang tersisa. Sederhana, kucing duduk dengan ekor yang melingkar ke arah depan.
Awalnya aku ragu, kok sepertinya ini ngga akan jadi kucing ya, bentuknya saja sudah aneh di awal. Tapi karena niatku pada awalnya adalah “belajar maklum kalau tidak sempurna”, aku membiarkan diriku melanjutkannya sambil memutar otak agar setidaknya ngga buruk-buruk amat hasilnya.
Referensi ini dari Instagram sebetulnya, ada akun jualan cangkir lucu dan di tengahnya ada objek kucing juga. Tapi karena shipping dari luar Indonesia, jadi agak mager belinya haha.
Aku cukup kagum hasilnya lucu. Perkenalkan, ini Tini karena kecil.
Singkat cerita aku menjemur mangkuk ini di taman sambil duduk-duduk di sampingnya. Beberapa kali kulihat orang-orang berlalu lalang sambil melihat mangkukku dan mengekspresikan kegemasannya — bahkan sampai ada yang memotret.
Bohong kalau aku tidak bersorak senang dalam hati, melihat hasil buah tanganku diapresiasi oleh orang asing yang menurutku seharusnya itu adalah respon yang jujur.
Sesudah kering, akhirnya aku memilih untuk membawa pulang mangkuk ini. Sebetulnya ada opsi untuk dibakar —ini maksudnya finalisasi mangkuk, yaitu sekaligus diberi warna dan dilapisi agar lebih awet dan food grade. Tapi kalau memilih untuk dibakar, prosesnya harus menunggu sekitar 1 bulan lagi, sedangkan aku tidak ingin lama-lama berpisah dengan Tini — haha. Baiklah, aku memutuskan untuk melakukan finalisasi sendiri. Sepertinya memang akan lebih asyik kalau aku bisa mewarnainya sendiri sesuai yang kuinginkan. Selain itu, memang mangkuk ini tidak akan kugunakan untuk makan, jadi bukan masalah seandainya tidak food grade.
Dahulu, aku berpikir aktivitas-aktivitas tadi sedikit membuang-buang waktu karena seharusnya aku bisa menggunakan waktuku untuk hal-hal produktif yang menghasilkan uang. Karena memang membaca buku, journaling, dan menggambar adalah kegiatan yang membutuhkan kita menjadi sedikit lebih pelan, tidak terburu-buru, dan meresapi alur waktu. Sekarang, ini adalah hal yang bisa kuandalkan ketika aku mulai merasa jenuh dengan rutinitasku. Membuatku menjadi lebih penuh, waras, dan pelan-pelan mencari tahu siapa diriku.
Baca selengkapnya di Medium yaa! https://medium.com/@belvatalita/lost-in-the-stream-of-tedious-routines-i-search-for-the-essence-of-who-i-am-3a8cb370d935