Life After School — Pretty Hard, Right?
It's been a long time since I've written a story. How’s life?
Banyak orang mengibaratkan hidup itu seperti roda. Melaju, berputar di jalan yang belum tentu selalu mulus. Ada kalanya hidup membawa kita pada jalan yang bergeronjal, berkerikil, berlubang, dan mengguncang sepanjang perjalanan. Ada kalanya juga, hidup membawa kita pada jalan yang mulus sehingga kita bisa melaju dengan kencang.
Mungkin kita akan membenci jalan yang rusak itu. Sungguh, kalau boleh memilih, aku tak ingin menemui jalan seperti itu. Namun, terkadang aku membayangkan, jika aku selalu berada di jalan yang mulus dan selalu melaju sekencang mungkin, bagaimana jika tiba-tiba remku blong? Atau mungkin, bagaimana jika aku menabrak sesuatu saat jalanan tiba-tiba berbelok?
Aku masih belum ingin menerima pandangan bahwa “Sebaiknya jangan membenci jalanan jelek itu.” Aku ingin egois dan mengatakan, “Iya, meskipun begitu, aku tetap benci jalan itu.”
But that’s what we called life.
Bersabar menerima jalan mana pun yang dilalui kehidupan. Namun, tetap mengambil kontrol untuk hal-hal yang bisa kita kontrol. Ingat, yang bisa.
Life after school — it’s just a weird thing, I think.
Sebagai lulusan SMK, setelah melalui berbagai drama sebelumnya, akhirnya aku memilih untuk bekerja sambil mengambil kuliah kelas karyawan. Awalnya terasa sangat menyenangkan. Namun, setelah agak lama menjalaninya, aku merasa stuck dan tidak tahu arah mana lagi yang ingin kutuju.
Kalau kata Nadin di lagunya yang berjudul Bertaut, “Bun, aku masih tak mengerti banyak hal. Semuanya berenang di kepala.” Sangat mewakili perasaanku. Rasanya seperti anak kecil yang dipaksa untuk menjadi dewasa setiap harinya — anak kecil yang penakut, anak kecil yang merengek, anak kecil yang tak ingin diabaikan, dan anak kecil yang ingin semua keinginannya dipenuhi. Tapi, tidak boleh begitu, kamu sudah dewasa!
Aku masih mencari, tetap berjalan, walau terkadang tak tahu arah.
Aku masih orang yang sama, penuh ambisi untuk setiap keputusan yang telah kuambil.
Aku tetap yang terbaik untuk setiap versi dari diriku sendiri.
Aku tak perlu validasi eksternal, karena aku tahu, aku layak.
Aku adalah aku, tanpa perlu persetujuan orang lain.
Aku mencintai diriku sendiri.
Life after school hit me so hard. But I’m still alive.
-
Here’s what my mama said,
“Dek, apapun yang terjadi itu takdir Allah. Kamu harus sabar. Kalau sulit, berarti dosamu sedang diampuni. Kalau mudah, jangan lupa bersyukur agar nikmatmu ditambah.
Dek, jangan kamu membenci takdir Allah. Itu berarti kamu juga membenci Allah. Perbanyak doa dan shalat malam, biar Allah kabulkan semua keinginanmu.”
— Bandung, 26/07/2024.
Baca selengkapnya di Medium ya! https://medium.com/@belvatalita/life-after-school-pretty-hard-right-61138291974e