Cerita dari Sudut Ruangan: Sebuah Pilihan oleh Mahasiswa Karir
Aku adalah seorang lulusan SMK yang setelah lulus sekolah memilih untuk langsung bekerja. Mungkin bisa dikatakan teman-temanku juga banyak yang memilih jalan yang sama sepertiku, tapi tidak bisa kubilang semuanya.
Tentu, mendapatkan uang hasil kerja keras sendiri ketika usiaku masih belasan tahun adalah hal yang menggiurkan, ditambah tuntutan ekonomi memang memaksaku bertindak demikian, aku sangat menghargai dan bersyukur atas pekerjaanku saat itu hingga kini.
Tentang pendidikan yang lebih tinggi? sungguh rasanya aku ingin mengubah opini banyak orang.
Aku pernah berkuliah selama 1 tahun (2 semester) di salah satu PTN favorit di kota Surabaya. Tidak hanya menjalani kehidupan perkuliahan, tapi aku juga bekerja full-time secara remote. Saat itu, aku sedikit pesimis tentang kuliah. Mungkin begini kira-kira pemikiran liarku ketika itu “Untuk apa kuliah ribet-ribet, pada akhirnya tujuannya buat dapet kerja. Sekarang aku sudah bekerja…”
Kamu boleh saja menghakimi diriku, tapi sungguh itu adalah aku ketika berusia 18 tahun. Pada akhirnya tetap kujalani hari-hariku sebagai “mahasiswa karir”. Pagi sampai sore kelas, di tengah-tengah ada interupsi meeting dulu, malam kerja, dini hari nugas, buset. Tapi aku tetap berprinsip untuk menjaga dan melakukan semua tanggung jawabku dengan maksimal, entah sebagai mahasiswa ataupun seorang pekerja.
Sampai akhirnya, kondisi membuatku harus fokus bekerja, dan keluar dari universitas itu.
Aku tidak impulsif memutuskan keluar begitu saja. Ada hari-hari berat yang membingungkan bagiku untuk membuat keputusan besar itu. Ada sisi diriku yang sangat menginginkan tetap bisa menjadi mahasiswa di universitas itu — karena sebenarnya aku sudah sangat memimpikan untuk bisa berkuliah disitu, namun ada juga sisi diriku yang bergejolak takut dan memiliki attachment issue terhadap uang.
Baru-baru ini aku membaca 2 buah buku berjudul “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring”, dan “Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya”, keduanya ditulis oleh seorang psikiater, dr. Andreas Kurniawan, Sp.Kj. Ada topik yang sangat mengetuk pemikiranku tentang sebuah pilihan beserta penyesalannya.
Kita hidup tentu dihadapkan pada banyak pilihan, mulai dari pilihan yang paling kecil seperti “aku memakai baju apa ya hari ini?” hingga pilihan yang besar dan krusial. Bagiku memutuskan berhenti kuliah atau tidak adalah suatu keputusan yang besar, karena itu adalah hal yang penting dan bermakna untukku.
Dari kedua buku itu, aku mendapatkan insight bahwa kita tidak perlu menjadi obsesif untuk memilih pilihan yang paling baik. Tentu pemikiran ini dilandasi oleh kebiasaan sistem pendidikan kita sejak kecil, ketika ujian kita diminta untuk memilih jawaban yang paling tepat. Namun, tidak demikian dengan hidup. Tidak ada pilihan yang paling baik, yang ada adalah kita perlu memilih berdasarkan data dan fakta yang ada.
“Tenang, kamu pasti menyesal”, adalah salah satu kutipan yang paling aku suka. Apapun pilihan yang pada akhirnya kita ambil, akan selalu ada alasan bagi kita untuk menyesali pilihan tersebut. Yang perlu kita ingat adalah, kita tidak perlu mencari jawaban yang paling benar, karena dalam realita kehidupan, sungguh tidak ada pilihan yang paling benar.
Mungkin hari itu aku memilih untuk fokus bekerja, karena berdasarkan fakta dan data yang ada aku membutuhkan uang, dan dengan uang aku tetap bisa melanjutkan pendidikanku dengan kuliah online. Tapi keadaan itu suatu saat bisa berubah dan menjadi tidak relevan lagi di masa depan. Mungkin diriku yang sudah merasa berkecukupan materi, akan mulai membayangkan “Apa jadinya ya jika saat itu aku memilih untuk melanjutkan kuliah? Akankah aku menunaikan segala ekspektasi yang aku punya terkait dunia perkuliahan?” Apakah kemudian dengan aku berpikir seperti itu, aku merasa menyesal? Pick your poison.
Setelah memutuskan untuk fokus bekerja, aku kembali memulai perkuliahanku melalui jalur online. Harus menempuh kuliah dari awal lagi sebagai mahasiswa baru sempat membuatku kecewa. Rasanya seperti satu tahun kemarin terbuang sia-sia, dan kembali ke semester 1 membuatku merasa tertinggal. Namun, pada akhirnya hidup memang harus terus berjalan, bukan?
Ada satu insight menarik dari buku dr. Andreas yang menurutku sangat relate. Hidup itu seperti puzzle — kadang kita salah meletakkan beberapa kepingannya. Tapi satu-satunya cara agar puzzle itu utuh adalah dengan memindahkan kepingan tersebut ke tempat yang seharusnya. Bukan berarti kepingannya salah atau harus disingkirkan, justru dengan kepingan itulah puzzle hidup kita bisa lengkap.
Begitu juga dengan ceritaku. Mungkin letak kepingannya yang keliru — masa satu tahun kemarin awalnya terlihat tepat, tapi semakin aku menyusun kepingan lain, aku menyadari kepingan itu sebenarnya perlu dipindahkan agar aku bisa meletakkan kepingan baru yang seharusnya.
Singkatnya kehidupan perkuliahan onlineku berlanjut, dan aku bisa fokus bekerja. Tapi apakah berarti aku sudah tidak memiliki masalah? sepertinya selama kita hidup masalah akan selalu datang menyapa atau bahkan datang tiba-tiba seperti jumpscare.
Di awal cerita aku mengatakan, aku ingin sekali mengubah pemikiran banyak orang tentang pendidikan, walau aku tahu itu di luar kendaliku.
Sebenarnya aku ingin membuat tulisan bertopik ini setelah aku menyelesaikan S1 ku, tapi rasanya masih terlalu lama — karena ketika tulisan ini dibuat, aku baru semester 5 — dan emosiku sudah memuncak tentang persoalan ini.
Melihat bagaimana teman-teman mahasiswa lain yang “pada umumnya” bisa melakukan banyak hal dan bersinar lewat prestasi, aku hanya bisa berkata bahwa kalian sungguh beruntung. Tidak semua orang mendapat kesempatan merasakan bangku perkuliahan. Data BPS (2025) bahkan menunjukkan bahwa hanya 10,2% penduduk Indonesia yang berhasil lulus perguruan tinggi. Itu berarti, berada di posisi ini saja sudah merupakan sebuah privilese yang tidak dimiliki banyak orang.
Apresiasi besar untuk mereka yang mendedikasikan dirinya pada pendidikan dengan segala pencapaian yang diraih. Namun, ada juga kami, “mahasiswa karir” yang berjuang dengan cara berbeda. Sering aku mendengar kawan-kawanku yang juga seorang mahasiswa karir, ingin bisa bebas bereksplorasi, menggali potensi, dan belajar tanpa harus terbebani tanggung jawab pekerjaan maupun finansial.
Usia 20-an yang seharusnya menjadi masa emas untuk mencoba banyak hal, rasanya justru terasa penuh batasan. Waktu, tenaga, dan pikiran terbagi. Banyak orang mengglorifikasi prestasi, sedangkan perjuangan orang-orang seperti kami jarang terlihat. Kami berlari di dua lintasan secara bersamaan, mengejar tenggat pekerjaan dan menyelesaikan tugas kuliah.
Perjuangan itu sungguh ada, meski tidak banyak disorot. Dan mungkin, ketika lulus nanti, gelar kami tidak terlihat megah seperti mereka yang berasal dari kampus ternama. Tetapi di baliknya ada perjuangan, keberanian, dan daya juang yang tak kalah layak untuk dihargai.
Lewat tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan suara hati— untuk mewakili mereka yang mungkin merasa tertinggal, tidak terlihat, namun tetap melangkah dengan keberanian, berdiri di atas kaki sendiri, dan percaya bahwa setiap perjuangan itu tetaplah berharga.
kelas sepulang kerja hihi
Baca selengkapnya di Medium ya! https://medium.com/@belvatalita/cerita-dari-sudut-ruangan-sebuah-pilihan-oleh-mahasiswa-karir-259b34cd7df1